Minggu, 11 September 2011

Pengendalian Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Jagung

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman juga sudah lama diusahakan petani Indonesia dan merupakan tanaman pokok setelah padi. Penduduk kawasan timur Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur, Madura, sebagian maluku, dan Irian Jaya sudah biasa menggunakan jagung sebagai makanan pokok sehari-hari. Produksi jagung Indonesia sebagian besar berasal dari pulau Jawa (± 66%) dan sisanya berasal darp propinsi luar Jawa terutama Lampung, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, dan Nusa Tenggara Timur.
Jagung memiliki peranan penting dalam industri berbasis agribisnis. Untuk tahun 2009, Deotan melalui Direktorat Jendral Tanaman Pangan mengklaim produksi jagung mencapai 18 juta ton. Jagung dimanfaatkan untuk konsumsi, bahan baku industri pangan, industri pakan ternak dan bahan bakar. Kebutuhan jagung dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan seiring berkembangnya industri pakan dan pangan.
Kendala dalam budidaya jagung yang menyebabkan rendahnya produktivitas jagung antara lain adalah serangan hama dan penyakit. Hama yang sering dijumpai menyerang tanaman jagung adalah ulat penggerek batang jagung, kutu daun, ulat daun, ulat penggerek tongkol, ulat grayak, lalat bibit, ulat tanah. Sedangkan Bulai, Karat, penyakit gosong, penyakit busuk tongkol adalah penyakit yang sering muncul di tanaman jagung dan dapat menurunkan produksi jagung.
            Upaya pengendalian oleh petani pada saat ini adalah dengan menggunakan pestisida atau bahan kimia lainnya yang tidak ramah lingkungan. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang mengintegrasi komponen pengendalian yang selaras terbukti tidak hanya meningkatkan produksi jagung tetapi juga pendapatan petani. Sistim PHT melibatkan semua komponen yang berpeluang untuk menekan atau mencegah hama untuk mencapai ambang batas populasi merusak secara ekonomi (economic injury level/economic threshold) (Wilson, 1990). Sistim PHT yang bertujuan mengupayakan agar OPT tidak menimbulkan kerugian melalui cara-cara pengendalian yang efektif, ekonomis, dan aman bagi khalayak, produsen, dan lingkungan menjadi acuan dasar dalam pengendalian OPT agar petani tidak bergantung pada pestisida atau bahan kimia lainnya.
Tujuan
1.      Mengetahui jenis hama dan penyakit di ekosistem tanaman jagung.
2.      Mengetahui kelimpahan artropoda yang menghuni tanaman dan mengelompokkannya berdasarkan perannya.
3.      Menerapkan teknik sampling dan teknik pengamatan pada beberapa ekosistem tanaman.
4.      Menganalisis kelimpahan artropoda yang menghuni ekosistem tanaman dan kaitannya dengan intensitas kerusakan dan praktek budidaya.
5.      Menentukan tingkat kejadian dan keparahan penyakit dan kaitannya dengan praktek budaya.



















TINJAUAN PUSTAKA
A.    Komoditas Jagung
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain padi dan gandum. Sebagai sumber karbohidrat utama, di Amerika Tengah dan selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji yang dikenaln dengan istilah tepung jagung maizena), dan bahan baku industri(dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfual. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanaman sebagai penghasil bahan farmasi.
Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi  diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, kemudian teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu. Kajian filogenik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestiknya, yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain terutama, Zea mays ssp.mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggammbarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp.mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun kultivar.
Jagung merupakan tanaman berumah satu (monoecious), yaitu letak bunga jantan terpisah dengan bunga betina dalam satu tanaman. Dalam taksonominya jagung termasuk dalam ordo Tripsaceae, famili Poaceae, sub famili Panicoideae, genus Zea, dan spesies Zea mays L, (Muhadjir, 1988).


B.     Hama Pada Tanaman Jagung
1.      Penggerek Batang Jagung (Ostrina furnacalis Guen)

(Ordo : Lepidoptera, Famili : Noctudiae)
Bioteknologi
Ngengat aktif malam hari, dan menghasilkan beberapa generasi pertahun, umur imago/ngengat dewasa 7 – 11 hari.
Telur diletakkan berwarna putih, berkelompok, satu kelompok telur beragam antara 30-50 butir, seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 602-817 butir, umur telur 3-4 hari. Ngengat betina lebuh menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggi dan telur diletakkan pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9, umur telur 3-4 hari,
Larva, larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah-pindah, larva muda makan pada bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari.
Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna cokelat kemerahan, umur pupa 6-9 hari.
Gejala serangan
Larva O. Furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak.
Pengendalian
a). Kultur teknis
- Waktu tanam yang tepat.
- Tumpang sari jagung dengan kedelai atau kacang tanah.
- Pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman).
b). Pengendalian hayati
      Pemanfaatan musuh alami seperti : Parasitoid Trichogramma spp. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O.  furnacalis. Predator Euborellia annulata memangsa larva dan pupa O. Furnacalis. Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. Furnacalis, Cendawan sebagai entomopatogenik adalah Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O. furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman.
c). Pengendalian kimiawi
Penggunaan insektisida yang berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, dan karbofuran efektif untuk menekan penggerek batang jagung.
2.      Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)
(Ordo : Lepidoptera, Famili: noctuidae)
                                                 
Bioekologi
Ngengat dengan sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan, aktif pada malam hari.
Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25-500 butir) tertutup bulu seperti beludru.
Larva mempunyai warna yang bervariasi, ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan hidup berkelompok. Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.
Pupa. Ulat berkepompong dalam tanah , membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm.
Siklus hidup berkisar antara 30-60 hari (lama stadium telur 2-4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 20 – 46 hari, pupa 8 – 11 hari).
Gejala serangan, larva yang masih kecil merusak daun yang menyerang secara serentak berkelompok. Dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim kemarau.
Tanaman inang, hama ini bersifat polifag, selain jagung ulat grayak juga menyerang tomat, kubis, cabai, buncis, bawang merah, terung, kentang kangkung, bayam, padi, tebu, jeruk, pisang, tembakau, kacang-kacangan, tanaman hias, gulma Limnocharis sp, dll.
Pengendalian
a). Kultur teknis
- Pembakaran tanaman
- Pengolahan tanah yang intensif.
b). Pengendalian fisik / mekanis
- Mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya.
- Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah tanaman sejak tanaman berumur 2 minggu.
c). Pengendalian Hayati
Pemanfaatan musuh alami seperti : patogen SI-NPV (Spodoptera litura- Nuclear Polyhedrosis Virus), Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae, bakteri Bacillus thuringensis, nematoda Steinernema sp,. Predator Sycanus sp,. Andrallus spinideus, Selonepnis geminada,  parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.
d). Pengendalian Kimiawi
Beberapa insektisida yang dianggap cukup efektif adalah monokrotofos, diazinon, khlorpirifos, triazofos, dikhlorovos, sianofenfos, dan karbaril.
3.      Penggerek tongkol jagung ( Helicoverpa armigera Hbn. Noctuidae Leppidoptera)
Imago, betina H. Armigera meletakkan telur pada rambut jagung. Rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah diletakkan.
Larva spesies ini terdiri dari lima sampai tujuh instar. Khususnya pada jagung, masa perkembangan larva pada suhu 24 sampai 27,2 ºC adalah sampai 21,3 hari. Larva serangga ini memiliki sifat kanibalisme. Spesies ini mengalami masa pra pupa selama satu sampai empat hari. Masa pra pupa dan pupa biasanya terjadi dalam tanah dan kedalamannya bergantung pada kekerasan tanah.
Pupa, pada umumnya pupa terbentuk pada kedalaman 2,5 sampai 17,5 cm. Terkadang pula serangga ini berpupa pada permukaan tumpukan limbah tanaman atau pada kotoran serangga ini yang terdapat pada tanaman. Pada kondisi lingkungan mendukung, fase pupa bervariasi dari enam hari pada suhu 35ºC sampai 30 hari pada suhu 15ºC.


Gejala Serangan
Imago betina akan meletakkan telur pada silk jagung dan sesaat setelah menetas, larva kan menginvasi masuk kedalam tongkol dann akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung.
Pengendalian
a). Kultur teknis
      Pengolahan tanah yang baik akan merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H. Armigera berikutnya.
b). Pengendalian Hayati
      Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah Parasit, Trchogramma spp yang merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda. Cendawan, Metarhizium anisopliae.menginfeksi larva. Bakteri, Bacillus thuringensis dan Virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV).menginfeksi larva.
c). Kimiawi
      Untuk mengendalikan larva H. Armigera pada jagung, penyemprotan insektisida Decis dilakukan setelah terbentuknya rambut jagung pada tongkol dan diteruskan (1-2) hari hingga rambut jagung berwarna coklat.




4.      Lalat Bibit (Atherigona sp, Ordo: Diptera)
http://4.bp.blogspot.com/_6yTkDAIuc6M/SMGlAGEIUII/AAAAAAAAAEs/kJ-lFXv43cc/s200/Lalat+bibit.jpg




Imago, lama hidup serangga dewasa bervariasi antara 5 – 23 hari dimana betina hidup dua kali lebih lama daripada jantan. Serangga dewasa sangat aktif terbang dan sangat tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan tanah. Imago kecil dengan ukuran panjang 2,5 mm – 4,5 mm.
Telur imago betina mulai meletakkan telur 3 – 5 hari setelah kawin dengan jumlah telur 7 – 22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betina meletakkan selama 3 – 7 hari, diletakkan secara tunggal, berwarna putih, memanjang diletakkan dibawah permukaan daun.
Larva terdiri dari tiga instar yang berwarna putih krem pada awalnya dan selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap. Larva yang baru menetas melubangi batang yang kemudian membuat terowongan hingga dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan akhirnya mati.
Pupa terdapat pada pangkal batang dekat atau di bawah permukaan tanah, umur pupa 12 hari pada pagi atau sore hari. Pu          parium berwarna coklat kemerah-merahan sampai coklat dengan ukuran panjang 4,1 mm.
Pengendalian
a). Pengendalian hayati
      Parasitoid yang memarasit telur adalah Trichogramma spp, dan parasit larva adalah Opius sp. Dan Tetrastichus sp. Predator Clubiona japonicola yang merupakan predator imago.
b). Kultur teknis dan pola tanam
      Oleh karena aktivitas lalat bibit hanya selama 1 – 2 bulan pada musim hujan, maka dengan mengubah waktu tanam, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi, tanaman dengan tanaman bukan padi, dengan tanam serempak serangan dapat dihindari.
c). Varietas Resisten
      Galur-galur jagung QPM putih yang tahan terhadap lalat bibit adalah MSQ-P1 (S1)-C1-12, MSQ-P1(S1)-C1-44, MSQ-P1(S1)-C1-45, sementara galur-galur jagung QPM kuning yang tahan terhadap serangan hama ini adalah MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35, MSQ-K1(S1)-C1-50.
d). Kimiawi
      Pengendalian dengan insektisida dapat dilakukan dengan perlakuan benih (seed dressing), yaitu thiodikarb dengan dosis 7,5-15g b.a./kg benih atau karbofuran dengan dosis 6g b.a./kg benih. Selanjutnya setelah tanaman berumur 5-7 hari, tanaman disemprot dengan karbosulfan dengan dosis 0,2kg b.a./ha atau thiodikarb 0,75 kg b.a/ha. Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik.
5.      Sitophilus zeamais (Motsch) , Coleoptera, Curculionidae
Bioekologi


 

Sitophilus zeamais Motsch dikenal dengan maize weevil atau kumbang bubuk, dan
merupakan serangga yang bersifat polifag, selain menyerang jagung, juga beras, gandum,
kacang tanah, kacang kapri, kacang kedelai, kelapa dan jambu mente, S. zeamais lebih
dominan terdapat pada jagung dan beras. S. zeamais merusak biji jagung dalam
penyimpanan dan juga dapat menyerang tongkol jagung yang masih berada di
pertanaman.
Telur diletakkan satu per satu pada lubang gerekan didalam biji, Keperidian imago
sekitar 300-400 butir telur; stadia telur kurang lebih enam hari pada suhu 250C
Larva kemudian menggerek biji dan hidup di dalam biji, umur kurang lebih 20 hari pada
suhu 250C dan kelembaban nisbi 70%.
Pupa terbentuk di dalam biji dengan stadia pupa berkisar 5-8 hari.
Imago yang terbentuk berada di dalam biji selama beberapa hari sebelum membuat
lubang keluar. Imago dapat bertahan hidup cukup lama yaitu dengan makan sekitar 3-5
bulan jika tersedia makanan dan sekitar 36 hari jika tanpa makan.
Siklus hidup sekitar 30-45 hari pada kondisi suhu optimum 290C, kadar air biji 14% dan
kelembaban nisbi 70%. Perkembangan populasi sangat cepat bila bahan simpanan kadar
airnya di atas 15%.
Cara pengendalian
o Pengelolaan tanaman
Serangan selama tanaman di lapangan dapat terjadi jika tongkol terbuka, sehingga..
Tanaman yang kekeringan, dengan pemberian pupuk yang rendah menyebabkan tanaman
mudah terserang busuk tongkol sehingga dapat diinfeksi oleh kumbang bubuk. Panen
yang tepat pada saat jagung mencapai masak fisiologis, Panen yang tertunda dapat
menyebabkan meningkatnya kerusakan biji di penyimpanan.
o Varietas tanaman
Penggunaan varietas dengan kandungan asam fenolat tinggi dan kandungan asam
aminonya rendah dapat menekan kumbang bubuk. Penggunaan varietas yang
mempunyai penutupan kelobot yang baik
o Kebersihan dan pengelolaan gudang
Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan hibernasi
sesudah gudang tersebut kosong. Taktik yang digunakan termasuk membersihkan semua
struktur gudang dan membakar semua biji yang terkontaminasi dan membuang dari area
gudang. Selain itu karung-karung bekas yang masih berisi sisa biji harus dibuang. Semua
struktur gudang harus diperbaiki, termasuk dinding yang retak-retak dimana serangga
dapat bersembunyi, dan memberi perlakuan insektisida baik pada dinding maupun plafon
gudang.
o Persiapan biji jagung yang disimpan
Kadar air biji _ 12% dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk.
Perkembangan populasi kumbang bubuk akan meningkat pada kadar air 15% atau lebih.
o Pengendalian secara fisik dan mekanis
Pada suhu lebih rendah dari 50C dan di atas 350C perkembangan serangga akan
berhenti. Penjemuran dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Sortasi dapat
dilakukan dengan memisahkan biji rusak yang terinfeksi oleh serangga dengan biji sehat
(utuh).
o Bahan Tanaman
Bahan nabati yang dapat digunakan yaitu daun Annona sp., Hyptis spricigera,
Lantana camara, daun Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata, akar dari Khaya
senegelensis, Acorus calamus, bunga dari Pyrethrum sp., Capsicum sp., dan tepung biji
dari Annona sp. dan Melia sp.
o Pengendalian hayati
Penggunaan agensi patogen dapat mengendalikan kumbang bubuk seperti
Beauveria bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji dapat
mencapai mortalitas 50%. Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae (Howard)
mampu menekan kumbang bubuk.
o Fumigasi
Fumigan merupakan senyawa kimia yang dalam suhu dan tekanan tertentu
berbentuk gas, dapat membunuh serangga/hama melalui sistem pernafasan. Fumigasi
dapat dilakukan pada tumpukan komoditas kemudian ditutup rapat dengan lembaran
plastik. Fumigasi dapat pula dilakukan pada penyimpanan yang kedap udara seperti
penyimpanan dalam silo, dengan menggunakan kaleng yang dibuat kedap udara atau
pengemasan dengan menggunakan jerigen plastik, botol yang diisi sampai penuh
kemudian mulut botol atau jerigen dilapisi dengan parafin untuk penyimpanan skala
kecil. Jenis fumigan yang paling banyak digunakan adalah phospine (PH3), dan Methyl
Bromida (CH3Br).
C.    Penyakit Pada Tanaman Jagung
1. Bulai
hama penyakit pada tanaman jagung,penyakit tanaman jagung

Gejala
Gejala penyakit ini terjadi pada permukaan daun jagung berwarna putih sampai
kekuningan diikuti dengan garis-garis klorotik dan ciri lainnya adalah pada pagi hari di
sisi bawah daun jagung terdapat lapisan beledu putih yang terdiri dari konidiofor dan konidium jamur.
Penyakit bulai pada tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik yang meluas
keseluruh bagian tanaman dan menimbulkan gejala lokal (setempat). Gejala sistemik
terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun yang dibentuk
terinfeksi. Tanaman yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda biasanya
tidak membentuk buah, tetapi bila infeksinya pada tanaman yang lebih tua masih
terbentuk buah dan umumnya pertumbuhannya kerdil.
Penyebab
Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis
dan Peronosclerospora philippinensis yang luas sebarannya, sedangkan Peronosclerospora
sorghii hanya ditemukan di dataran tinggi Berastagi Sumatera Utara dan Batu
Malang Jawa Timur.
Cara pengendalian
- Menanam varietas tahan: Sukmaraga, Lagaligo, Srikandi, Lamuru dan Gumarang
- Melakukan periode waktu bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai
satu bulan
- Penanaman jagung secara serempak
- Eradikasi tanaman yang terinfeksi bulai
- Penggunaan fungisida metalaksil pada benih jagung (perlakuan benih) dengan
dosis 0,7 g bahan aktif per kg benih.

2. Bercak daun
Gejala
Penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras
patogennya yaitu ras O, bercak berwarna coklat kemerahan dengan ukuran 0,6 x (1,2_1,9)
Cm. Ras T bercak berukuran lebih besar yaitu (0,6_1,2) x (0,6_2,7) Cm, berbentuk
kumparan dengan bercak berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat
kemerahan. Kedua ras ini, ras T lebih virulen dibanding ras O dan pada bibit jagung
yang terserang menjadi layu atau mati dalam waktu 3_4 minggu setelah tanam.
Tongkol yang terinfeksi dini, biji akan rusak dan busuk, bahkan tongkol dapat
gugur. Bercak pada ras T terdapat pada seluruh bagian tanaman (daun, pelepah, batang,
tangkai kelobot, biji dan tongkol). Permukaan biji yang terinfeksi ditutupi miselium
berwarna abu-abu sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil yang cukup besar.
Cendawan ini dalam bentuk miselium dan spora dapat bertahan hidup dalam sisa tanaman.



3. Hawar daun
Gejala :
Pada awal infeksi gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak
semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik dan disebut
hawar, warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5_15 Cm, bercak
muncul awal pada daun yang terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi
berat dapat mengakibatkan tanaman cepat mati atau mengering dan cendawan ini tidak
menginfeksi tongkol atau klobot. Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk
miselium dorman pada daun atau pada sisa sisa tanaman di lapang.
Penyebab penyakit hawar daun adalah : Helminthosporium turcicum
Cara pengendalian
- Menanam varietas tahan Bisma, Pioner2, pioner 14, Semar 2 dan 5
- Eradikasi tanaman yang terinfeksi bercak daun
- Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate.



4. Karat
hama penyakit pada tanaman jagung,penyakit tanaman jagung
Gejala
Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat pada
permukaan daun jagung di bagian atas dan bawah, uredinia menghasilkan uredospora
yang berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber inokulum dalam
menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya melalui angin. Penyakit karat
dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan infeksinya berkembang baik pada
musim penghujan atau musim kemarau.
Penyebab penyakit karat adalah Puccinia polysora
Cara pengendalian :
- Menanam varietas tahan Lamuru, Sukmaraga, Palakka, Bima 1 dan Semar 10
- Eradikasi tanaman yang terinfeksi karat daun dan gulma
- Penggunaan fungisida dengan bahan aktif benomil
5. Busuk pelepah
Gejala
Gejala penyakit busuk pelepah pada tanaman jagung umumnya terjadi pada
pelepah daun, bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu-abu,
bercak meluas dan seringkali diikuti pembentukan sklerotium dengan bentuk yang tidak
beraturan mula-mula berwarna putih kemudian berubah menjadi cokelat.
Gejala hawar dimulai dari bagian tanaman yang paling dekat dengan permukaan
tanah dan menjalar kebagian atas, pada varietas yang rentan serangan jamur dapat
mencapai pucuk atau tongkol. Cendawan ini bertahan hidup sebagai miselium dan
sklerotium pada biji, di tanah dan pada sisa-sisa tanaman di lapang. Keadaan tanah yang
basah, lembab dan drainase yang kurang baik akan merangsang pertumbuhan miselium
dan sklerotia, sehingga merupakan sumber inokulum utama.
Penyebab penyakit busuk pelepah adalah Rhizoctonia solani
Cara pengendalian :
- Menggunakan varietas/galur yang tahan sampai agak tahan terhadap penyakit
hawar pelepah misalnya: Semar 2, Rama, Galur GM 27,
- Diusahakan agar pertanaman tidak terlalu rapat sehingga kelembaban tidak terlalu
tinggi
- Lahan mempunyai drainase yang baik
- Mengadakan pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan
yang sama
- Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim
6. Busuk Batang
Gejala
Tanaman jagung tampak layu atau kering seluruh daunnya. Umumnya gejala tersebut
terjadi pada stadia generatif, yaitu setelah fase pembungaan. Pangkal batang yang terinfeksi
berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan, bagian dalam busuk, sehingga mudah rebah, pada
bagian kulit luarnya tipis. Pada pangkal batang terinfeksi tersebut ada yang memperlihatkan
warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat.
Penyakit busuk batang jagung dapat disebabkan oleh delapan spesies/cendawan seperti
Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme,
Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium maydis, dan
Cephalosporium acremonium. Di Sulawesi Selatan penyebab penyakit busuk batang yang telah
berhasil diisolasi adalah Diplodia sp., Fusarium sp. dan Macrophomina sp.
Penularan
Cendawan patogen penyebab penyakit busuk batang memproduksi konidia pada
permukaan tanaman inangnya . Konidia dapat disebarkan oleh angin, air hujan ataupun serangga.
Pada waktu tidak ada tanaman, cendawan dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman yang terinfeksi
dalam fase hifa atau piknidia dan peritesia yang berisi spora. Pada kondisi lingkungan yang sesuai
untuk perkembangannya, spora akan keluar dari piknidia atau peritesia. Spora pada permukaan
tanaman jagung akan tumbuh dan menginfeksi melalui akar ataupun pangkal batang. Infeksi awal
dapat melalui luka atau membentuk sejenis apresoria yang mampu penetrasi ke jaringan tanaman.
Spora/konidia yang terbawa angin dapat menginfeksi ke tongkol, dan biji yang terinfeksi bila
ditanam dapat menyebabkan penyakit busuk batang.
Cara pengendalian
1. Pengendalian penyakit busuk batang jagung dapat dilakukan dengan menanam
varietas tahan, hasil pengujian 54 varietas/galur jagung terhadap Fusarium sp. melalui
inokulasi tusuk gigi di dapat 17 varietas/galur yang paling tinggi ketahanannya yaitu
BISI-1, BISI-4, BISI-5, Surya, Exp.9572, Exp. 9702, Exp. 9703, CPI-2, FPC 9923,
Pioneer-8, Pioneer-10, Pioneer-12, Pioneer-13, Pioneer-14, Semar-9, Palakka, dan J1-C3.
2. Pergiliran tanaman, pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K
rendah, dan drainase yang baik.
3. Pengendalian penyakit busuk batang (Fusarium) secara hayati dapat dilakukan
dengan cendawan antagonis Trichoderma sp.
7. Busuk tongkol
hama penyakit pada tanaman jagung
Penyakit busuk tongkol dapat disebabkan oleh beberapa jenis cendawan antara lain :
a. Busuk tongkol Fusarium
Gejala
Permukaan biji pada tongkol berwarna merah jambu sampai coklat, kadangkadang
diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas yang berwarna merah jambu.
Cendawan berkembang pada sisa tanaman dan di dalam tanah, cendawan ini dapat
terbawa benih , dan penyebarannya dapat melalui angin atau tanah
Penyakit busuk tongkol fusarium disebabkan oleh infeksi cendawan Fusarium
moniliforme
b. Busuk tongkol Diplodia
Gejala
Kelobot yang terinfeksi pada umumnya berwarna coklat, infeksi pada kelobot
setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung, menyebabkan biji berubah menjadi coklat,
kisut dan busuk. Miselium berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada klobot
infeksi dimulai pada dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke
permukaan biji dan menutupi klobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora
dan piknidia yang berdinding tebal pada sisa tanaman di lapang.
Gejala busuk tongkol Dilodia disebabkan oleh infeksi cendawan Diplodia maydis
c. Busuk tongkol Gibberella
Gejala
Tongkol yang terinfeksi dini oleh cendawan dapat menjadi busuk dan klobotnya
saling menempel erat pada tongkol, badan buah berwarna biru hitam tumbuh di
permukaan klobot dan bongkol.
Gejala busuk tongkol Gibberella disebabkan oleh infeksi cendawan Gibberella roseum
Cara pengendalian :
- Pemeliharaan tanaman yang sebaik-baiknya, antara lain dengan pemupukan
seimbang
- Tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lapangan, jika musim hujan
bagian batang dibawah tongkol dipatahkan agar ujung tongkol tidak mengarah
keatas
- Mengadakan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan termasuk padipadian,
karena patogen ini mempunyai banyak tanaman inang
Penyakit yang disebabkan Virus
8. Virus mosaik kerdil jagung
Gejala
Gejala penyakit ini tanaman menjadi kerdil, daun berwarna mosaik atau hijau
dengan diselingi garis-garis kuning, dilihat secara keseluruhan tanaman tampak berwarna
agak kekuningan mirip dengan gejala bulai tetapi apabila permukaannya daun bagian
bawah dan atas dipegang tidak terasa adanya serbuk spora. Penularan virus dapat terjadi
secara mekanis atau melalui serangga Myzus percicae dan Rhopalopsiphum maydis
secara non persisten. Tanaman yang terinfeksi virus ini umumnya terjadi penurunan
hasilnya.
Cara pengendalian :
- Mencabut tanaman yang terinfeksi seawal mungkin agar tidak menjadi sumber
infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman yang akan datang
- Mengadakan pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan
yang sama
- Penggunaan peptisida apabila di lapangan populasi vektor cukup tinggi
- Tidak penggunakan benih yang berasal dari tanaman yang terinfeksi virus.









BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan adalah pertanaman Jagung milik salah satu petani di kelurahan Situ Gede, Bogor Barat. Selain itu alat-alat yang digunakan antara lain: lubang perangkap (pitfall traps), jaring serangga, kertas label, kantong plastik, alat tulis berupa buku catatan dan pensil.
Metode
  1.  Penarikan Contoh
Pada setiap komoditas jagung yang diamati diambil 40 tanaman contoh. Letak tanaman contoh di dalam petak pertanaman ditentukan secara acak sistematik. Tanaman contoh yang diambil merupakan perwakilan dari setiap guludan (gambar 1). Setiap perwakilan guludan yang diambil adalah tanaman tengah. Unit contoh dan jumlah contoh yang diamati disesuaikan dengan ketersediaan waktu pengamatan. Penentuan unit contoh berdasarkan bagian tanaman yang diserang hama dan penyakit yang diamati.
  1. Pemetaan Wilayah Pengamatan
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
Gambar 1.  Denah tanaman contoh (luas lahan 2500 m2)
Keterangan:
: guludan contoh (masing-masing guludan yang diamati diambil tanaman tengah dari masing-masing guludan tersebut)
: guludan yang tidak di amati
Pola pengambilan sampel dengan menggunakan metode acak sistematis. Tanaman diambil dari guludan yang telah ditentukan dan di dalam guludan tersebut satu sampel diambil secara acak. Pengambilan sampel seperti ini diharapkan setiap sampel tanaman dapat mewakili guludan yang diamati.
  1.  Cara Pengamatan
  1. Pengamatan langsung pada tajuk tanaman
Setiap kelompok mengamati 40 rumpun tanaman yang ditentukan secara acak sistematis. Kemudian dihitung kerapatan populasi hama (masing-masing jenis hama), atau intensitas kerusakan hama, kejadian dan keparahan penyakit, dan kerapatan populasi musuh alami (masing-masing jenis musuh alami).
  1. Pengamatan menggunakan jaring serangga
Dilakukan penjaringan sebanyak 5 kali ayunan tunggal kemudian artropoda (serangga dan laba-laba) yang tertangkap dimasukkan ke dalam kantong plastik. Penjaringan diulang sampai 5 kali pada petak yang berbeda (secara diagonal). Artropoda yang tertangkap diidentifikasi dan dihitung jumlahnya setiap jenis.
  1. Pengamatan dengan lubang perangkap (pitfall traps)
Lubang perangkap terbuat dari botol bekas air mineral 240 ml. Kemudian  dimasukkan formalin 2% sekitar 60 ml ke dalam gelas. Kemudian gelas dipasang pada guludan dengan cara membuat lubang terlebh dahulu menggunakan sekop. Selanjutnya gelas dimasukkan dan permukaan atas gelas dibuat rata dengan permukaan tanah (gambar 2). Gelas diberi atap agar terhindar dari hujan. Setelah itu, dipasang selama 24 jam. Kemudian setelah 24 jam diangkat, diberi label, dan diamati di laboratorium dengan mikroskop. Serta dicatat jenis dan jumlah artropoda yang tertangkap.
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
Gambar 2.  Denah peletakan pitfall pada pertanaman jagung
Keterangan :
:           : Tempat peletakan pitfall pada pertanaman Jagung
: Tanpa pemasangan pitfall
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengamatan
Tabel 1.  Kelimpahan Artropoda permukaan tanah hasil tangkapan Pitfall
Jenis artropoda
Jumlah yang tertangkap pada pengamatan ke-
I
II
III
IV
V
Carabidae
0
0
2
0
1
Formicidae
33
38
46
14
21
Arachnidae
6
4
4
3
6
Dermaptera
2
1
3
1
0
Collembola
11
15
61
30
37
Aphididae
0
0
2
0
2
Gryllidae
0
0
1
2
1
Myrmeleontidae
1
0
0
0
1
Wereng
0
0
0
0
1

Tabel 2.  Kelimpahan Artropoda hasil tangkapan Sweep net

Jenis artropoda
Jumlah yang tertangkap pada pengamatan ke-
I
II
III
IV
V
Hama





Aphididae
10
7
4
2
1
Acrididae
0
2
1
1
0
Kumbang daun
1
0
0
2
1
Musuh Alami





Aphidae
2
0
2
1
0
Coccinelidae
4
1
3
1
1
Chalcididae
2
0
1
0
1
Sarchopagidae
0
1
0
0
1
Syrphidae
2
0
0
1
1

Tabel 3.  Perkembangan Populasi Hama pada Tanaman Jagung
Jenis hama
Kerapatan Populasi / intensitas Serangan pada umur tanaman (hari)
40
47
54
61
70
Hama putih palsu (Cnaphalocrosis medinalis)
7
16
18
8
Sudah dipanen
Penggerek Batang (Ostrinia furnacalis)
0
27
38
38
Kutu daun (Rhopalosiphum maidis)
±1500
±2000
>3500
<3500
Thrips
0
0
> 2300
<2300
Belalang (Acrididae)
8
3
6
0
Kumbang (Coleoptera)
± 450
± 550
± 600
±200

Tabel 4.  Perkembangan Populasi Musuh Alami pada Tanaman Jagung
Jenis Musuh alami
Kerapatan Populasi musuh alami pada umur tanaman (hari)
40
47
54
61
70
Coccinelidae (larva)
46
150
±  300
± 90
Sudah dipanen
Coccinelidae (imago)
4
6
30
10

Larva Syrphidae
0
50
75
25

Formicidae
± 200
± 350
± 450
± 200


Tabel 5.  Tingkat Kejadian Penyakit
Insidensi atau tingkat kejadian penyakit = n/N X 100%
Tanggal
Nama Penyakit
Bulai
Karat
Hawar
30-Sep-10
9/40 x 100% = 22,5%
0/40 x 100% = 0%
3/40 x 100% = 7,5%
7-Oct-10
12/40 x 100% = 30%
8/40 x 100% = 20%
17/40 x 100% = 42,5%
14-Oct-10
10/40x 100%=  25%
12/40 x 100% = 30%
15/40 x 100% = 37,5%
21-Oct-10
8/40 x 100% = 20%
20/40 x 100% = 50%
21/40 x 100% = 52,5%
31-Oct-10
Telah dipanen

Tabel 6.  Tingkat Keparahan Penyakit
Intensitas penyakit (%) = ( S(ni x vi)/ N x V)) x 100%





Tanggal
Nama Penyakit
Bulai
Karat
Hawar
30-Sep-10
4.5%
0%
1.5%
7-Oct-10
10.50%
6%
11%
14-Oct-10
17%
10%
13,5%
21-Oct-10
8%
17,5%
16,5%
31-Oct-10
Telah dipanen
Pembahasan
Pengamatan PHT yang dilakukan di lahan Bapak Basri, Kelurahan Situ Gede, Bogor Barat. Luas areal yang diamati adalah sekitar 2500 m2. Komoditas yang diamati adalah tanaman jagung yang ditanam secara tumpang sari dengan tanaman singkong. Tanaman yang ditanam ataupun tumbuh disekitar lahan yang diamati adalah jagung, kacang panjang, Oxalis sp., Panicum sp., Digitaria sp., dan beberapa gulma yang lain. Lahan ini sebelumnya ditanam  singkong dan jagung. Hama dan penyakit yang ditemukan dilahan pada waktu pengamatan antara lain hamanya adalah kutu daun, penggerek batang, hama putih palsu, thrips, belalang, dan kumbang. Sedangkan penyakitnya adalah Bulai, Karat, dan Hawar daun. Pengamatan awal yang dilakukan pada pertanaman jagung dilakukan pada saat jagung berumur sekitar 40 hari setelah tanam (HST).
Kutu daun (Rhopalosiphum maidis) menyerang pertanaman jagung terutama pada bagian pucuk daun yang masih muda. Hama ini menyerang mulai dari awal pertanaman. Hama ini ditemukan sangat banyak di pertanaman. Gejela kerusakan yang disebabkan oleh hama ini adalah nekrotik, daun mengkriting dan warna daun berubah. Musuh alami yang ditemukan menyerang kutu daun tersebut antara lain larva Syrphidae dan Coccinellidae predator. Namun dari pengamatan yang dilakukan jumlah hama ini masih belum bisa ditekan populasinya oleh musuh alami. Hal ini dipengaruhi oleh perlakuan pestisida yang juga mematikan musuh alami sehingga jumlah populasinya sedikit.
Penggerek batang (Ostrinia furnacalis) menyerang bagian batang, daun, dan tongkol. Larva penggerek batang dapat merusak daun, batang, serta bunga jantan dan betina atau tongkol muda. Larva instar I-III merusak daun dan bunga jantan, sedangkan larva instar IV-V merusak batang dan tongkol (Nafus dan Schreiner, 1987). Namun dalam pengamatan di lapang hama ini hanya menyerang pangkal batang saja. Gejala yang ditunjukkan berupa gerekan di bagian dalam batang. Hama ini menyerang tanaman pada kisaran 6 MST. Kehilangan hasil jagung, selain dipengaruhi oleh padat populasi larva O. Furnacalis, juga ditentukan oleh umur tanaman saat terserang (Nonci dan Baco, 1987).
Musuh alami hama penggerek batang adalah laba-laba, semut, cocopet, Syirphidae, Coccinellidae. Tetapi yang banyak ditemukan di lapang adalah Syirphidae dan Coccinellidae.
Hama putih palsu (Cnaphalocrosis medinalis) merupakan salah satu hama pertanaman jagung yang menyerang daun. Fase hama yang merusak adalah pada fase larva. Kerusakan yang diakibatkan oleh larva hama putih palsu adalah adanya warna putih pada daun. Larva memakan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun sehingga meninggalkan warna putih pada permukaan bawah daun. Musuh alami untuk hama ini adalah Coccinellidae.
Penyakit bulai merupakan penyakit yang disebabkan oleh patogen terbawa benih. Gejala yang ditimbulkan akibat penyakit ini adalah pada bagian daun tanaman jagung terjadi klorosis yang memanjang sepanjang tulang daun. Dan pada daun yang belum terserang berwarna hijau normal. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali. Tanaman yang terinfeksi sistemik sejak muda di bawah umur 1 bulan biasanya mati. Gejala lainnya adalah terbentuk anakan yang berlebihan dan daun-daun menggulung dan terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daun sobek-sobek.
Penyakit karat disebabkan oleh Puccinia sp. dengan gejala serangan pada permukaan atas dan bawah daun jagung terlihat bercak karat berwarna oranye kecoklatan. Dari 40 sampel tanaman yang diambil setengahnya terserang oleh karat. Karat mulai terlihat saat tanaman berumur sekitar 6 MST dan serangannya terus meningkat dipengamatan selanjutnya. Pada saat tanaman berumur sekitar 8 MST serangan karat mencapai 50% dari sampel tanaman yang diamati.
Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Helminthosporium turcicum merupakan salah satu penyakit utama pada jagung setelah bulai. Gejala visual yang menunjukkan ciri khas serangan H. turcicum adalah bercak agak memanjang, bagian tengah agak melebar, makin ke pinggir makin kecil, berwarna cokelat keabuan, dikelilingi oleh warna kekuningan sejajar tulang daun. Patogen ini menular melalui udara sehingga mudah menyebar. Kehilangan hasil akibat bercak daun mencapai 59%, terutama bila penyakit menginfeksi tanaman sebelum bunga betina keluar (Poy 1970). Cendawan ini dapat bertahan hidup pada tanaman jagung yang masih hidup, beberapa jenis rumput-rumputan termasuk sorgum, pada sisa-sisa tanaman jagung sakit, dan pada biji jagung. Konidium jamur ini disebarkan melalui angin. Di udara, konidium yang terbanyak terdapat menjelang tengah hari. Konidium berkecambah dan pembuluh kecambah mengadakan infeksi melalui mulut kulit atau dengan mengadakan penetrasi secara langsung, yang didahului dengan pembentukan apresorium (Semangun,1991). Tanaman jagung yang terinfeksi penyakit hawar daun pada fase vegetatif menyebabkan tingkat penularan yang lebih berat dibanding bila penularan terjadi pada tanaman yang lebih tua dan ini akan berpengaruh terhadap kehilangan hasil (Sumartini dan Sri Hardaningsih 1995).
Kelimpahan hama yang didapatkan dengan menggunakan metode Pitfall didapatkan jenis hama yang banyak ditemui adalah Collembola dan Formicidae (Tabel 1). Jumlah mengalami peningkatan paling tinggi pada pengamatan ke III. Ketidakstabilan jumlah hama yang didapatkan bisa terjadi akibat adanya kesalahan pada waktu peletakkan pitfall di lahan. Dan juga adanya pengaruh dari intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan menggenangnya lahan.
Kelimpahan hama dengan metode Sweep net jenis hama yang banyak terjaring adalah dari kelompok Aphididae (Tabel 2). Jumlah yang tertangkap mengalami penurunan mulai minggu ke III sampai ke V. Jumlah kelimpahan hama yang mengalami penurunan dapat disebabkan susahnya proses penjaringan akibat semakin bertambahnya tinggi tanaman sehingga lebih menyulitkan.
Gambar 3.  Grafik Perkembangan Populasi Hama pada Tanaman Jagung
Nb. Populasi kutu daun dan Kumbang dikalikan seratus untuk mempermudah
penampilan di grafik
Pada grafik populasi hama di tanaman sampel menunjukan hama kutu daun menunjukan peningkatan jumlah populasi yang sangat tinggi.  Namun pada pengamatan keempat tidak terjadi peningkatan hal ini dimungkinkan karena populasi kutu sudah mencapai maksimum. Selain itu dikarenakan juga semakin meningkanya jumlah predator seperti Coccinellidae dan juga Syrphidae yang terdapat pada lahan.  Hal ini juga terjadi pada hama penggerek batang dan Thrips dimana pada pengamatan keempat tidak terjadi peningkatan popuasi dari pengamatan ke tiga. Hama putih palsu populasi meningkat tetapi pada pengamatan keempat terjadi penurunan, hal ini bisa dipengaruhi oleh musuh alami atapun perlakuan pestisida yng dilakukan oleh petani. Belalang pada pengamatan kedua langsung terlihat penurunan populasi dan terjadi peningkatan lagi pada pengamatan ketiga namun pada pengamatan keempat terjadi penurunan lagi. Hal ini bisa dipengaruhi oleh sifat belalang yang terus bergerak sehingga pada saat pengamatan jumlah belalang yang dihitung tidak sesuai dengan jumlah yang ada dilapang. Kumbang jumlahnya sangat sedikit dan terlihat mulai meningkat pada pengamatan ke tiga namun populasinya kembali menurun pada pengamatan keempat. Secara garis besar, dalam pertanaman jagung ini yang menjadi hama  adalah Kutu daun dan Penggerek batang.
Gambar 4.  Grafik perkembangan populasi musuh alami pada tanaman jagung
Musuh alami yang banyak ditemukan adalah predator. Sedangkan parasitoid sangat jarang ditemukan. Populasi Coccinellidae larva dan imago banyak ditemukan pada pertanaman jagung. Populasi Coccinellidae mulai meningkat pada umur  47 HST seiring dengan mulai berkembangnya mangsanya yang berupa kutu daun, penggerek batang, dll. Populasi Coccinellidae paling tinggi pada saat saat 54 HST. Hal ini dapat dilihat juga dari populasi kutu daun dan penggerek batang yang tinggi juga pada waktu 54 HST. Dimana Coccinellidae merupakan musuh alami dari hama-hama tersebut. Predator Syrphidae dan Formicidae juga terdapat pada pertanaman jagung walaupun fluktuasi musuh alami ini tidak terlalu tinggi. Namun musuh alami yang ditemukan  tersebut cukup membantu dalam menekan populasi hama pertanaman jagung.
Gambar 5.  Tingkat kejadian penyakit pada pertanaman Jagung
Pada tingkat kejadian penyakit pada bulai grafik menunjukkan kenaikan pada minggu ke-2 sebesar  30% dan terus mengalami penurunan padaminggu ke-3 dan ke-4 sebesar 25% dan 20%, meningkatnya bulai pada minggu ke-2 disebabkan karena bulai terbawa benih sehingga meningkatnya tingkat kejadian penyakit pada minggu ke-2. Menurunnya tingkat kejadian penyakit pada minggu ke-3 dan ke-4 karena pengendalian yang sudah dilakukan oleh petani dengan cara dicabut sehingga presentasi tanaman yang terserang menurun. Tingkat kejadian penyakit pada karat terus meningkat dari minggu ke-1 hingga minggu ke-4. Peningkatan ini terjadi karena bertambahnya umur tanaman. Hawar daun mengalami paningkatan pada minggu pertama dan ke-2 sebesar 7,5% dan 42,5%, lalu mengalami penurunan pada minggu ke-3 sebasar 37,5%, dan mengalami peningkatan kembali pada minggu ke-4 sebesar 52,5%. Fluktuatifnya grafik kejadian penyakit pada hawar disebabkan karena kesalahan pada pengamatan, karena skoring yang dilakukan oleh berbeda-beda pengamat sehingga kesalahan terjadi.
Gambar 6.  Grafik tingkat keparahan penyakit pada pertanaman Jagung
Tingkat keparahan pada penyakit bulai pada pengamatan minggu pertama hanya 4,5% tetapi terus meningkat hingga minggu ke-3 mencapai 17% dan menurun pada pengamatan minggu ke-4 sebesar 8%, hal ini disebabkan bulai menyerang tanaman karena terbawa benih, sehingga menyerang tanaman jagung yang masih muda, menurunya serangan bulai pada minggu ke-4 karena sudah dilakukan pengendalian oleh petani dengan cara dicabut dari pertanaman. Karat diawal tanam tidak ditemukan adanya serangan, tetapi semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur tanaman terlihatpada tabel keparahan penyakit, penyakit karat meningkat pada minggu ke-4 sebesar 17,5%. Hawar daun diawal pengamatan hanya sebesar 1,5% dan terus meningkat pada pengamatan minggu ke-4 sebesar 16,5%. Persentasi dari ketiga penyakit yang dapat di lihat di tabel masih terlalu kecil, sehingga tidak mempengaruhi hasil ekonomis bagi petani dan tidak diperlukan pengendalian.
Wawancara kepada empat petani jagung di daerah sekitar Situ Gede dilakukan secara acak. Dari hasil wawancara didapatkan informasi bahwa mereka tidak memiliki lahan yang mereka garap, atau kurang lebih bekerja pada hanya sebagai petani penggarap. Asal benih yang digunakan untuk ditanam menggunakan benih musim tanam sebelumnya. Proses pengolahan tanah dilakukan menggunakan cangkul pada saat sebelum proses tanam. Penggunaan pupuk rata-rata menggunakan pupuk kandang dan menggunakan Urea, ZA , dan KCL dengan frekuensi pemberian pupuk sebanyak  2x selama musim tanam. Proses penyiangan dilakukan oleh para petani selama proses tanam. Untuk proses pengairan hanya menggunakan air hujan yang turun. Proses pemanenan dilakukan pada saat umur tanaman kurang lebih 75 hari dengan cara ditebas langsung. Pengolahan lanjutan dengan menjual hasil panmen kepada tengkulak dan ada pula yang menjual langsung ke pasar tradisional.
Pengendalian yang sudah pernah dilakukan adalah dengan penggunaan pestisida. Pestisida sintetik menggunakan Matador 25 EC (bahan aktif lamda sihalotrin 25 g/l) dan Decis 25 EC (bahan aktif deltametrin 25%) dengan cara aplikasi disemprot. Pestisida sintetik tersebut digunakan petani untuk membasmi hama yang terdapat di lahan. Ada pula petani yang menggunakan pestisida nabati dengan menggunakan akar tuba yang disemprot dan jengkol yang dibakar kemudian ditaburkan abunya pada pertanaman. Waktu aplikasi pemberian pestisida dilakukan pada pagi hari dengan frekuensi pemberiannya minimal sebanyak 2x selama musim tanam. Dasar pengendalian petani adalah penyemprotan dilakukan sebelum muncul hama agar mencegah hama merusak dan berkembang biak pada pertanaman. Petani tidak menerapkan salah satu prinsip PHT yaitu penggunaan musuh alami dalam pengendalian hama dan penyakit. Dalam pengaplikasian pestisida, petani melakukan secara efikasi dimana dengan cara tersebut bisa meningkatkan resistensi hama. Proses monitoring sebaiknya dilakukan terlebih dahulu sebelum pengaplikasian pestisida karena selain dapat menghemat biaya juga dapat menghambat proses resistensi hama tersebut.
KESIMPULAN
Tingkat pemahaman dan aplikasi PHT bagi petani di Situ Gede sangatlah kurang. Pengendalian hama dan penyakit pada pertanaman jagung dilahan petani sebagian besar masih menggunakan pestisida sintetik dengan cara penyemprotan tanpa melihat adanya musuh alami. Presentase penyakit yang ditemukan dilapang (Bulai, Karat, dan Hawar) sangat kecil, sehingga kurang mempengaruhi hasil panen bagi petani. Populasi hama kutu daun dilapang paling tinggi diantara populasi hama yang lain, hal yang dilakukan petani untuk pengendalian untuk menurunkan populasinya dengan menggunakan pestisida sintetik Matador 25 EC (bahan aktif lamda sihalotrin 25 g/l) dan Decis 25 EC (bahan aktif deltametrin 25%) dengan cara aplikasi disemprot.  Jenis musuh alami yang melimpah dilahan adalah larva Coccinelidae dan Formicidae, tetapi kurang efektif dalam mengendalikan hama yang terdapat di lahan, hal ini juga dipengaruhi oleh penggunaan pestisida sintetik, sehingga juga mematikan musuh alami yang terdapat dilahan.

1 komentar:

  1. maaf, ini untuk referensi (buku) di dapat darimana ya ? ? terimakasih

    BalasHapus